Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pendek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2022

Menyibak Tirai Nelangsa

Oleh : Ahmad Amirul Sir


Hari jumat itu menjadi hari nahas bagi Sukardi Kartono, seorang menteri sekaligus 
kandidat terkuat kursi kepresidenan. Ia ditangkap atas tuduhan pelecehan seksual pada seorang wanita berinisial I-S yang merupakan asisten pribadinya. Sepekan setelah pria paruh baya itu ditangkap, kuasa hukum S-K melenggang ke pihak kepolisian melaporkan I-S dengan tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik yang telah dilakukan pada S-K. Ia melenggang bersama Ansori, seorang aktivis HAM ternama. Berbagai media massa memberitakannya secara langsung dari kantor kepolisian. Warganet kemudian bersimpati pada S-K dengan munculnya Ansori. 

Di saat yang sama, seorang siswi yang duduk di bangku kantin sebuah SMA, seketika membisu. Kuduknya bergidik sedang bibirnya terkatup rapat. Dengan raut wajah muram ditambah mata berkaca-kaca, gadis itu menatap gentar seorang pria paruh baya dengan pipi menonjol dan bibir kehitaman yang sedang memberi keterangan di layar televisi yang di dadanya melekat sebuah papan nama bertuliskan ‘Ansori’. Pikiran siswi itu kemudian berkecamuk. Memorinya seolah terkejar oleh sesosok raksasa hitam di ruangan sempit dan gelap. Ia mual. Lalu meninggalkan begitu saja santapan yang ada di hadapannya. Orang-orang mengenal gadis itu dengan nama Dinda.


***

Sinar mentari pagi di akhir pekan kian menghangat. Kota tenggelam dalam kesibukan sejak dini hari. Hari ini, sebuah minibus hitam terparkir tepat di depan rumah Dinda. Hartono dan Kartini, kedua orang tua Dinda akan keluar kota selama 5 hari karena urusan pekerjaan. Setelah mobil itu berlalu, Dinda diikuti Ansori berjalan kembali masuk ke dalam rumah.

“Dinda, sini dulu, Nak!” panggil Ansori, panggil paman Dinda yang tinggal bersama 
keluarga Dinda sejak 10 tahun lalu.

“Iya om? Ada apa?” sambut Dinda pada panggilan saudara ayahnya yang sedang 
duduk membaca sebuah buku di sofa berkaki pendek di ruang tamu.

"Orangtuamu kan lagi keluar kota, jadi tolonglah buatkan kopi untuk ommu ini, Nak,” pinta Ansori sembari mengelus pinggang belakang Dinda yang berdiri di sisi kanannya. Kedipan mata dan senyum ambigu mengakhiri permintaannya. Dinda tersentak.

“I... I… Iya om,” ucap Dinda terbata-bata sembari meng-iya-kan permintaan Ansori. 

Tak lama, Dinda membawa secangkir kopi hitam pekat untuk omnya penuh risau. Saat melalui omnya, gadis belia itu merasakan sebuah tangan meremas bagian belakang tubuhnya. Dinda lalu mengambil langkah seribu menuju kamarnya. Di sela itu, ia lalu 
menoleh dan mendapati Ansori tersenyum penuh gairah padanya.

Ia lalu duduk sembari melingkarkan tangan ke lututnya di sudut kamar, berharap tak 
tampak. Ingatan masa lalu muncul satu demi satu dalam benak Dinda, seraya ia mengurung diri. Rabaan, sentuhan, hingga pelukan dan ciuman saban kali dilakukan Ansori saat orangtuanya bepergian.

Pikirannya mulai berkecamuk. Benaknya penuh tanya. Apa wajar jika ia seperti itu? 
Sungguh tidak wajar perlakuannya bukan? Bagaimana jika papa sama mama tahu hal ini? Apa yang akan dilakukan papa sama saudaranya itu? Apa yang akan terjadi jika teman-temanku tahu bahwa aku sudah tidak berharga?. Tak lama, tetes demi tetes membasahi pipinya. Sesenggukan kemudian terdengar dari mulut mungilnya.

Dinda menangis sejadi-jadinya. Air matanya mengalir deras. Aaarrrggghhh, teriak Dinda kuat seraya menarik rambut dan air mata membasahi lantai kamar. Ia merasa tak berharga. Dinda tak bisa menerima dirinya. Setelah tersengut hampir 6 jam, air matanya mulai mengering, meninggalkan jejak luka di batin seorang gadis belia. 

Gadis belia itu lalu tertidur pulas dengan wajah dan lantai membasah karena keringat dan air mata, rambut awut-awutan, mata sembab, hingga luka dalam yang membekas 
sepanjang hayatnya.

***

Hari pertama setelah Dinda tidak menerima dirinya. Ia yang telah melaksanakan ibadah salat Subuh, duduk mematung diatas sajadahnya. Hanya sekejap saja ketenangan 
menghampiri relung kalbunya. Tak lama, pikirannya kembali berkecamuk. Dinda tak 
menyangka omnya seperti itu. 

Dinda meratap dalam doanya. “Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini. Aku tak tahu siapa 
yang akan menerima orang sepertiku. Aku hina. Aku malu dan jijik pada diriku sendiri.” Ia benar-benar malu pada keadaannya dan tak ingin seorang pun menemuinya. Ketenangan lalu menghampiri relung kalbunya. Memorinya lalu terbang pada kedua orang tuanya yang berada jauhh darinya.

Dinda lalu bertanya-tanya. Apa orangtuaku perlu tahu soal ini? Sepertinya tidak. Sebab jika mereka tahu, pekerjaan mereka akan terganggu. Aku akan menjadi perusak hubungan Om Ansori dan Ayah. Keluarga besar akan berseteru. “Papa, Mama. Maafkan kesalahan anakmu yang tak berharga ini,” ratap anak tunggal Hartono dan Kartini itu.

Dinda kemudian memikirkan hidupnya. Aku sekarang sudah tidak punya masa depan. 
Kalau begini, aku melacur saja lah. Atau mungkin aku lebih baik meninggalkan dunia ini. Memangnya siapa yang mau menerima manusia hina sepertiku?. Tatapan kosongnya tertuju pada sudut kamarnya yang lain. 

Tak lama, smartphone milik Dinda berdering. Doni, tetangga sekaligus sahabat Dinda menelepon. “Din, aku ada tugas nih. Aku ke rumahmu ya,” ujar Doni.

“Iya. Nanti langsung aja ke ruang tamu,” balas Dinda dengan nada lemah diselingi 
senggukan kecil.

Mendengar nada bicara Dinda, Doni khawatir. “Kamu kenapa, Din? Kamu gak apa-apa, kan?” .

Dinda lalu menjawab, didahului tarikan napas panjang untuk memperbaiki nada 
suaranya.“Iya, gak apa-apa kok.”

Tak lama, Dinda mendapati Doni telah duduk di sofa berkaki pendek di ruang tamu  rumahnya. Hal itu disusul suara panggilan pada Dinda. Dinda lalu menghampiri tetangganya itu dan mencoba untuk bersikap seperti biasa. Ia menunjukkan pada teman masa kecilnya itu 
bahwa tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Mereka berencana membeli beberapa makanan ringan lewat layanan pesan antar. Namun, Dinda secara iseng membuka obrolan perihal pelecehan seksual. 

“Don, hmmmm,” kata Dinda ragu-ragu. “Menurutmu kalau kamu disentuh sama orang lain tanpa seizinmu, bagaimana?” tanya Dinda dengan nada lemah.

“Ya biasa aja kali, Din,“ timpal Doni langsung. “Masa disentuh dikit, risi. Disenyumin dikit, malu. Kita jadi orang jangan lebay banget deh”. Bak tersambar petir di siang bolong, Dinda tersentak mendengar perkataan itu. Ia tak menyangka Doni akan berpikiran seenteng itu.

“Kok bisa kamu anggap biasa aja yang kayak begituan?” balas Dinda dengan nada sedikit marah.

"Ya, emang biasa aja Din. Mungkin orangnya lagi bercanda doang. Masa begitu aja baper,” jawab Doni santai.

Mendengar itu, Dinda seakan naik pitam. “Bercanda doang?! Baper?!” kata Dinda geram seraya melayangkan tatapan tajam pada cowok stylish yang duduk di sampingnya itu.

“Terus, kalau kamu bertemu orang yang udah digituin gimana?” lanjut Dinda

“Hih, jijiklah aku. Emang kenapa kamu nanya-nanya soal itu? Kamu udah pernah nganu ya?” tanya Doni iseng. Dinda seketika tertegun. Perasaan pahit menjalari sekujur tubuhnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Eh malah ngambek…,” canda Doni. Namun, melihat wajah Dinda yang masih muram, ia berkata lagi, “Memang kenapa Din? Ada masalah apa?”.

“Hm… Ah, nggak kok, aku hanya bertanya saja,” respon Dinda memaksakan diri untuk tersenyum sedang batinnya berkecamuk. 

“Apa sih Din? Enggak jelas banget deh,” kata Doni merajuk. Cowok itu lalu kembali fokus mengerjakan tugasnya. Sedangkan Dinda menatap Doni dengan perasaan nelangsa. Apa yang harus kulakukan? Doni saja berpikir begitu. Kalau aku beneran cerita ke Doni, dia pasti akan jijik sama aku. Siapa yang akan benar-benar percaya kalau aku cerita?

***

Kamar kecil Dinda, tempat teraman baginya saat ini kian lama ditelan gelap malam. Walau gelap malam menyelimuti, hiruk pikuk kota tak henti-hentinya. Setelah melaksanakan salat Isya, ia kembali merentangkan tubuhnya di atas sajadah. Air matanya kembali menitik saat memori-memori kelam masa lalu kembali menghantui benak Dinda. 

Tak lama, dering smartphone Dinda kembali terdengar. Kali ini adalah panggilan video dari Sinta, sahabat Dinda yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. “Haloo Dindaa.. Kangen nih sama kamu. Kita udah lama nggak ketemu,” ujar Santi curhat.

Dinda lalu merespon dengan nada lesu. “Halo juga, San. Aku lagi nggak enak badan nih sekarang.”

“Dinda? Kamu gak apa-apa? Kamu barusan nangis ‘kan? Kok nangis, Din?” tanya Santi penuh selidik.

“Aku gak apa-apa kok, San. Terima kasih yah udah pengertian,” jawab Dinda menyembunyikan lukanya.

"Serius? Kalau kamu ada masalah, cerita dong, Din. Supaya masalah itu gak kamu pendam sendiri,” balas Santi.

"Memangnya kamu serius mau dengerin ceritaku?” tanya Dinda ragu.

“Dua rius malah. Tunggu yah, aku ke rumahmu sekarang,” jawab Santi.

“Iya deh. Nanti langsung ke kamar aja. Hati-hati, San,” balas Dinda.

Sekitar 15 menit kemudian, gagang pintu perlahan bergerak turun disusul suara ketukan pintu yang diiringi panggilan berasal dari suara yang cukup familiar bagi Dinda. Santi telah tiba. Dinda lalu membukakan pintu bagi gadis berambut pendek itu. Santi terperanjat melihat kawan baiknya tampak berubah drastis. Mata Dinda terlihat sembab. Wajahnya murung, tubuhnya tampak lunglai. Bahkan bajunya lusuh seakan-akan tidak pernah dicuci beberapa hari.

“Kamu kenapa, Din? Kok sekarang kayak gini sih?,” tanya Santi panik seraya memeriksa sekujur tubuh Dinda dengan khawatir dan menjatuhkan kantong plastik berisi makanan serta minuman ringan yang sengaja dibelinya di miniswalayan dekat rumah Dinda. 

Dinda terdiam. Matanya berkaca-kaca melihat perhatian sahabatya itu. Dinda lalu merengkuh Santi dan menangis sejadi-jadinya di pundak sahabatnya itu. Tangan Santi refleks mengusap kepala gadis yang sedang tersedu di pundaknya.

“Sini, sini. Jangan menangis lagi, Din. Udah ada aku kok sekarang. Yok, cerita ke aku ya. Supaya kamu gak pendam masalah sendiri. Berat loh itu,” ujar Sinta seraya bergerak menuntun Dinda untuk duduk di lantai. Dinda lalu menceritakan tentang perlakuan omnya.

“Terus om Ansori sekarang ada dimana, Din?” tanya Sinta penasaran.

“Tadi aku lihat di berita, dia lagi nanganin kasus pembunuhan di luar kota, mungkin lusa dia udah pulang,” jawab Dinda dengan nada lesu.

Santi lalu mengelus punggung Dinda. “Yang sabar, Din. Kita buat om kamu yang bejat itu ngerasain akibatnya,” ancam Sinta pada Ansori seraya membulatkan tekadnya.

Namun, Dinda sangsi pada ancaman Santi itu. “Caranya gimana, San? Kamu lihat aja. Dia itu aktivis, yang kalau di televisi pasti sebagai orang yang sangat baik. Citra dia di masyarakat bagus banget, San.”

Santi kemudian berpikir. Tak lama, sebuah ide tercetus di pikirannya. “Kamu harus cerita jujur lewat video yang akan kita sebar di media sosial lewat tagar. Nanti warganet bakal tahu bagaimana tingkah bejat om kamu itu jika di belakang layar kaca,” usul Santi menjelaskan idenya dengan sangat meyakinkan.

“Emang bakalan dipercaya? Kalau nanti aku dihujat, dicaci, dimaki, gimana?” tanya Dinda khawatir.

“Kan belum dicoba, Din. Yok bisa yok!” seru Santi berapi-api.

“Ya udah deh, aku ganti pakaian dulu,” ujar Dinda tak terlalu semangat.

Setelah Dinda mengganti pakaian, Santi lalu merekam kesaksian Dinda dalam bentuk video, tetap dengan wajah dan suara yang disamarkan. “San, kayaknya kita gak usah ngelakuin ini deh. Ini tuh sama aja aku malu-maluin omku sendiri,” ujar Dinda ragu atas apa yang ia lakukan bersama Santi.

Dengan tekad bulat, Santi meyakinkan Dinda. “Din, kalau kita enggak ngelakuin ini, Om Ansori gak bakal jera. Kamu bakalan digituin terus sama dia. Aku gak rela seumur hidup kalau ada orang yang ngerendahin orang lain. Apalagi itu kamu, Din.”

Dinda masih terdiam, Santi melanjutkan lagi dengan nada menghibur. “Malam ini aku nginep bareng kamu kok. Mamaku juga udah izinin sebelum kesini.” Mendengar itu mata Dinda kembali berbinar. ”Yang bener, Sin?” tanya Dinda antusias.

Sinta lalu meresponnya dengan penuh semangat. “Iya, aku bawa motor. Jadi besok 
subuh, kita jalan bareng ke pantai, yang di depan kantor walikota itu loh,” ujar Sinta.

“Ini memang gak bakalan mudah, Din. Nanti pasti ada orang-orang yang gak percaya bahkan mengira kamu bohong. Tapi, yang perlu kamu tahu, ada banyak orang yang sebenarnya peduli, mau dengerin, bahkan perjuangin keadilan buat orang-orang yang 
bernasib sama bahkan lebih buruk dari kamu, Din,” lanjut Santi seraya mengunggah video itu di laman media sosialnya dengan tagar #PelecehanSeksualAnsori.

Tidak butuh waktu lama, unggahan itu viral di media sosial. Unggahan Santi perihal 
masalah Dinda ramai dikunjungi warganet. Berbagai tanggapan dan komentar negatif muncul dengan tagar #DindaPansos.

“Halah… Pansos ini mah. Mentang-mentang pak Ansori lagi naik daun, masalahnya 
malah muncul… #DindaPansos”

“Pak Ansori ngelecehin anak SMA? Gak mungkin lah. Dia itu orangnya religius. Lagian kalau emang bener, itu bertentangan dengan apa yang selama ini dia perjuangin #PelecehanSeksualAnsori”

“Playing victim ini mah. Temen gue malah bilang kalau si #DindaPansos itu pacaran 
sama sahabatnya sendiri. ‘Main’ sama pacar sendiri kok nyeret pak Ansori? Hahahahaha”

“#DindaPansos ‘anu’ nya pak Ansori besar gak ? Dia kalau ‘main di ranjang’ pasti hebat, sehebat nyembunyiin sifat aslinya... Wkwkwkwkwk”

“Kok bukan si #DindaPansos yang ngupload ini sih? Makin gak yakin kalau #PelecehanSeksualAnsori”

Dinda terperanjat melihat isi kolom komentar unggahan itu. Ia lalu meringkuk tubuhnya. Tatapannya kosong. Ia tak percaya jika orang-orang akan memandangnya seperti  itu. Santi lalu membangunkan Dinda dan merangkulnya.

“Kita harus kuat, Din. Oya, kamu belum lihat direct massage akun media sosialku ‘kan? Isinya banyak banget social movement, youtuber sampai pemengaruh yang peduli dan mau dengerin cerita yang sebenarnya terjadi langsung dari kamu, Din,” ujar Sinta dengan mata berbinar-binar.

“Alhamdulillah deh kalau begitu. Tapi setelah itu apa, Sin? Toh juga enggak ada yang percaya. Lihat aja tuh komentar di unggahanmu, pada negatif semua ‘kan,” ujar Dinda resah.

“Gini, Din. Semakin banyak social movement, youtuber sampai pemengaruh yang dengerin cerita kamu itu akan ngaruh ke publik. Biarin aja mereka gak percaya dulu atau mengira kamu bohong, sampai mereka denger cerita dari kamu langsung yang disebarin lewat konten-konten para pemengaruh, youtuber, sampai social movement. Dengan begitu, secara enggak langsung semua pihak bakalan perjuangin keadilan buat kamu, Din,” ujar Sinta menenangkan sahabatnya itu.

“Sinta, terima kasih ya udah dengar, percaya dan nemenin aku ngelewatin masalah ini,” tutur Dinda.

"Iya. ‘Kan sahabat harus saling tolong? Yok, kita tidur. Besok subuh ‘kan mau jalan bareng,” ujar Sinta dengan semangat.

Dinda lalu merespon semangat Sinta itu dengan menarik selimut. “Gas lah pokoknya, hahahahaha,” ujarnya seraya tergelak.

***

Nuansa pantai pagi itu masih sejuk. Pohon-pohon kelapa dengan santai berayun ke sana kemari. Jauh di ujung pantai terdengar riuh rendah anak-anak saling melempar tawa. Di antara itu, tampak Dinda duduk sembari melingkarkan tangannya ke lutut. Pandangannya lurus menatap horizon jauh di sana. Angin sepoi lembut mengelus punggungnya, menarikan anak-anak rambut yang sekali menghalangi sendu matanya. Ombak bergulung riang sedikit demi sedikit menyapukan pasir ke kakinya. Dihadapannya, laut begitu lepas seakan sedia merawat luka batin Dinda. Ia lalu membuka luka batinnya pada laut yang tenang.

Luka ini sangatlah dalam, memendamnya sendiri takkan membuatku lebih baik. Menyalahkan diriku sendiri hanya membuat semuanya bertambah buruk. Akan lebih baik jika aku bisa menyatakan bahwa aku tidak baik-baik saja. Bahwa aku pernah ada dalam situasi ini namun, terima kasih buat orang-orang yang mengasihiku karena membantu memaknai harkatku lagi. Luka ini akan selalu ada, sepanjang hayatku. Namun aku harus bisa menerimanya sebagai bagian dari perjalananku, sebab langkahku masih panjang. Jalan hidupku bergantung pada diriku sendiri bukan ditentukan orang lain. Terima kasih juga buat orang-orang yang telah membuka matanya. Telinganya. Hingga relung kalbunya sehingga mampu menyelami kisahku. Tanpa kalian, saat ini aku takkan sanggup menjadi diriku sendiri dan bersyukur menjadi bagian dari indahnya ciptaan Tuhan.

Kolaka, 20 Oktober 2021
---------------------------------------------------------------------
Tulisan ini rampung setelah melewati riset yang diakses penulis di berbagai platform. Tulisan ini menjadi naskah resmi yang diikutkan penulis dalam babak Final Lomba Cipta Cerpen di ajang Festival Literasi Siswa Indonesia (FeLSI) SMA tingkat Nasional tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kemendikbudristek RI. Dalam ajang tersebut, naskah ini mendapat penghargaan khusus sebagai 10 naskah cerpen terbaik.
Continue reading Menyibak Tirai Nelangsa

Sabtu, 10 April 2021

Buyutku (bukan) Pahlawan Bangsa

Oleh : Ahmad Amirul Sir

Sesuatu yang selalu mahal harganya : kesederhanaan. Aku menuliskan kata-kata yang dituturkan oleh Bung Hatta itu di atas lembaran buku catatanku yang dibungkus kulit sintetis berwarna hitam. Melihat kembali buku catatanku ini, aku kembali teringat peristiwa ketika aku mendapat kabar bahwa kedua orang tuaku meninggal dunia akibat kecelakaan setelah pulang kerja. Konon, mereka berencana menjengukku bersama Kakek di kampung keesokan harinya. Saat itu, aku merasa hancur sehancur-hancurnya. Namun, aku tidak berlarut dalam kesedihan. Sebab, aku percaya bahwa orangtuaku bangga memiliki anak sepertiku yang rajin membantu Kakek di kampung. Namaku Didi Prasetyo dan kakek yang mengasuhku bernama Hasto Purwanto.

Hari ini adalah hari selasa. Pasar di ibukota kecamatan sedang ramai. Aku memutuskan untuk pergi ke pasar bersama kakekku untuk membeli beberapa barang yang telah habis sejak pekan lalu. Seingatku, ini adalah kali pertamaku pergi bersama Kakek ke pasar. Hal itu karena keperluan kami sering diantar oleh om Supardi, keluarga kami yang juga pedagang di pasar itu. Namun, saat ini om Supardi sedang sakit. Sehingga, kami harus berangkat sendiri ke pasar.

Ketika kami sampai di pasar, orang-orang yang berpapasan dengan kami sontak menjauh. Beberapa orang juga sinis terhadap keberadaan kami. Mungkin kakekku tidak menyadari hal ini. Namun, aku agak risih. Kejadian ini membuat aku berpikir kami adalah  manusia yang paling kotor di dunia ini. Setelah kami berjalan agak jauh ke dalam pasar dan membeli beberapa barang, jumlah orang-orang yang memperlakukan kami seperti tadi sewaktu memasuki pasar mulai berkurang. 

Ketika Kakek sedang belanja panganan pasar, aku memberanikan diri berbisik padanya mengenai kejadian tadi sewaktu memasuki pasar. “Oh, enggak apa-apa. Santai aja”, jawab Kakek.

Setelah selesai berbelanja, kami memutuskan untuk pulang. Namun, kejadian yang tadi terjadi saat kami memasuki pasar, kembali terjadi saat kami keluar dari pasar. Bahkan, beberapa orang menyoraki kami. Kakek yang berjalan di samping kananku, terlihat mengedarkan senyumnya kepada semua orang. Kakek yang malang, batinku.

Sesampainya kami di rumah, Kakek lantas membakar rokoknya dan duduk di selasar rumah kami yang sedikit reyot. Aku kembali bertanya pada Kakek mengenai kejadian tadi sewaktu di pasar. ”Nggak ada apa-apa kok, Di. Kamu nggak usah mikirin mereka”, jawab Kakek.

“Kok nggak ada apa-apa, kek ? Padahal mereka sampai menyoraki kita tadi”, jawabku.

Kakek terdiam sejenak menikmati rokoknya.

“Kalau Kakek masih tidak mau bilang, tidak apa-apa. Tapi, jangan heran kalau besok aku tidak ke sekolah”, ancamku pada Kakek.

Kakek lalu mengembuskan rokoknya. Kakek kemudian menarik napas, dan mulai bercerita. 

“Didi, kamu sudah beranjak dewasa. Mungkin sudah waktunya kamu mengetahui kebenaran keluarga kita. Dahulu buyutmu bekerja sebagai seorang prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), namanya Purwanto, biasa dipanggil Datuak Ludo. Karirnya di ABRI berawal dari jabatan sebagai komandan peleton dan ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama gerilyawan lainnya pada tahun 1945. Kemudian, jabatannya naik menjadi komandan kompi pada tahun 1958. 

Namun, Datuak Ludo tidak puas pada pemerintah saat itu, khususnya para elite negara yang berada di Jakarta. Dia merasa pemerintah tak acuh pada kesejahteraan rakyat, khususnya prajurit TNI yang berpangkat rendah. Selain itu, perekonomian nasional juga terpuruk akibat adanya persaingan antara elite nasional. Hingga suatu hari, Datuak Ludo menghilang dari pasukannya karena ikut bergabung bersama Kolonel Ahmad Hussein di Padang yang mengumumkan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) sebagai bentuk ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah saat itu. 

Namun, bukannya tuntutan mereka disambut atau malah dituruti, mereka malah dihabisi. Pesawat-pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia terbang dan menjatuhkan bom ke barak mereka yang terletak jauh di pegunungan. Selain itu, mereka juga ditangkap dan dipenjara dengan vonis seumur hidup. Kakek saat itu masih sangat muda untuk mengerti masalah ini.

Setelah 20 tahun, Datuak Ludo mendapat remisi dan keluar dari penjara. Namun, siksaan yang dialami Datuak Ludo juga tak ada habisnya. Datuak Ludo terdiskriminasi di lingkungan. Bahkan keluarga Datuak Ludo, termasuk kakek difitnah di masyarakat karena keterlibatan Datuak Ludo dalam pemberontakan PRRI. Fitnah itu menyebutkan bahwa kami, keluarga Datuak Ludo, suka melakukan pesugihan dan memelihara tuyul.

Diskriminasi yang dialami Datuak Ludi tak sampai disitu. Salah satu bekas anak buah Purwanto, Mardhoni mendapatkan uang pensiun saat dia pensiun. Sedangkan Dauak Ludo tidak mendapatkannya. Semua yang dialami Datuak Ludo adalah akibat keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI di Padang. Negara seolah lupa kalau Datuak Ludo pernah berjuang membela kemerdekaan. Lencana tanda jasa yang diberikan negara pada Datuak Ludo pun dicabut karena keterlibatannya pada pemberontakan PRRI”, tutur Kakek seraya menangis menceritakan kejadian sebenarnya.

Aku terhenyuk mendengar cerita yang dituturkan Kakek. Ternyata, buyutku adalah pahlawan yang terlupakan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana agar orang lain bisa mengetahui kebenaran ini ? Mungkin orang tua teman-temanku akan percaya, pikirku. Namun, setelah membicarakan pada mereka, orangtua mereka juga tidak percaya.

Satu-satunya sahabatku, Roni bersedia mendengar cerita-ceritaku. Dia lalu menyarankan, “Kamu tulis opini aja, Di. Lalu, kirim ke redaksi surat kabar Layar Terkembang yang ada di kota. Kalau opini kamu dimuat, orang-orang bisa tahu tentang kebenaran yang kamu katakan”, ujarnya. 

Dengan segera, aku pulang ke rumah dan mengambil pulpen yang terselip di antara tumpukan buku di kamarku. Dengan menyobek selembar kertas dari bukuku, aku akan mengikuti saran Roni. Aku menulis opini dan mengirimkannya pada redaksi surat kabar Haluan yang ada di kota, dengan harapan agar dimuat dalam surat kabar tersebut. Dengan dimuatnya opini itu, kebenaran mengenai keluargaku bisa diketahui oleh orang lain. 

Tak butuh waktu lama, opiniku dimuat di surat kabar Haluan sepekan setelah aku mengirimnya. Seminggu kemudian, banyak orang yang mencari keberadaanku, dan mereka hanya sempat bertemu dengan Kakek. Mereka mengaku sebagai teman seperjuangan Datuak Ludo yang memberontak untuk memperjuangkan penderitaan rakyat. Ya, mereka juga  bergabung bersama buyutku saat pemberontakan PRRI. Opiniku yang berjudul “Buyutku (bukan) Pemberontak”, sepertinya mewakili suara para perwira ABRI yang memberontak dalam Pemberontakan PRRI. 

Ternyata, Kakek masih bingung dengan apa yang terjadi. Aku lalu menceritakan semua yang terjadi. Sontak, Kakek tertawa diiringi tangis kebahagiaan. Masyarakat juga telah berubah dalam hal memperlakukanku setelah surat kabar Layar Terkembang memuat opiniku. Diskriminasi terhadap keluargaku juga mulai berkurang. Pada saat kami ke pasar tiga hari lalu, beberapa orang telah menyapa dan menjabat tangan kami erat-erat. 

Kemarin, ketika aku pergi ke sekolah, guru sejarah di sekolahku, Bu Santi, memanggilku dengan alasan ingin membicarakan sesuatu. Dia mengorek laci kecil di bawah mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak. Setelah dibuka, isinya adalah sebuah lencana kuningan beserta selembar piagam yang telah dibingkai. 

“Apa itu bu ?”, tanyaku penasaran.

“Ini lencana dan piagam tanda jasa. Biasanya diberikan negara untuk prajurit yang telah berjasa saat perang revolusi kemerdekaan”, jawab Bu Santi. 

“Ibu mendapatkan ini darimana ?”, tanyaku heran.

“Kabarnya, opini kamu yang dimuat surat kabar Layar Terkembang, dimuat kembali oleh surat kabar Arah di Jakarta. Mungkin saja ada pejabat yang berwenang membaca opini kamu itu. Sekarang, negara ingin mengembalikan derajat keluarga kamu dengan mengakui jasa kakek buyutmu dalam perang revolusi kemerdekaan. Paket ini tiba kemarin sore. Soal dana pensiun, itu tidak bisa diberi kembali. Pasalnya, kakek buyut kamu sudah berkalang tanah”, jawab Bu Santi dengan raut wajah sedih diujung kalimat. Sebelum menyerahkan barang berharga itu, Bu Santi bertutur, 

“Nak, sejarah itu milik waktu dan masa lalu, sehingga penuh misteri. Kita yang hidup di masa kini tidak bakal tahu kejadian masa lalu jika tidak diceritakan oleh mereka yang mengalami kejadian itu. Sehingga, jika ada dua narasi sejarah yang muncul, kita tidak pernah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Semuanya tergantung pada perspektif kita melihat peristiwa itu. Dan sebagaimana kakek buyutmu, negara juga pasti memiliki alasan mengapa mereka menghabisi para pemberontak. 

Tapi, itu masa lalu, Di. Indonesia masih berumur 13 tahun sejak proklamasi bergema.  Umur Indonesia saat itu terhitung masih sangat muda. Dan tugas kita saat ini bukan merawat luka yang ada di masa lalu, nak. Tapi, bagaimana caranya kita belajar dari masa lalu agar kesalahan di masa lalu tidak terulang kembali”, ujar Bu Santi dengan raut wajah serius dengan helaan napas di ujung ucapannya.

“Oke. Apa kamu paham, Didi ?”, tanya Bu Santi santai.

“Paham bu”, jawabku yakin penuh semangat. 

“Kalau kamu sudah paham, ini lencana dan piagam tanda jasa kakek buyutmu. Hadiahkan ini ke kakekmu. Bahagiakan dia”, balas Bu Santi seraya menyerahkan padaku sebuah kotak berisi lencana kuningan dengan gambar garuda ditengahnya serta sebuah piagam tanda jasa yang telah dibingkai dengan pigura berwarna emas. 

Saat pulang sekolah, aku membungkusnya dengan kertas kado bermotif loreng. Setibanya aku di rumah, Kakek tengah duduk di selasar rumahnya seraya mengisap rokok kretek, sedang tangannya lincah membuat anyaman. Aku kemudian duduk disampingnya. Kakek lalu bertanya, 

“Apa yang kamu bawa itu, Di ?”, tanya Kakek penasaran.

“Kek, ini ada hadiah untuk kakek. Coba kakek buka”, ujarku seraya menyerahkan kotak bermotif loreng itu.

Kakek lalu meraih dan membuka kotak pemberianku. Tampak mata Kakek sendu dan berbinar-binar.

“Kakek, ini lencana dan piagam tanda jasa Datuak Ludo yang dicabut itu. Negara sudah minta maaf, Kek. Keluarga kita sudah tidak boleh dipandang rendah lagi hanya karena Datuak Ludo terlibat pemberontakan”, ujarku seraya menitikkan air mata. Kakek lalu bergerak memelukku. Kakek mendekapku sangat erat seraya tersedu-sedu. Kami menangis bahagia. Setelah sekian lama, derajat keluarga kami akhirnya bisa setara dengan keluarga lain di masyarakat, batinku diiringi titik air mata yang jatuh perlahan.



Cerita ini meraih Juara 1 dalam Lomba Cipta Cerita Sonic Linguistic yang diselenggarakan secara Nasional oleh MAN Insan Cendekia Serpong. 

Selain itu, cerita ini juga telah meraih Juara 1 Lomba Cipta Cerpen yang diselenggarakan di tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara oleh HMJPBSI UHO 


Continue reading Buyutku (bukan) Pahlawan Bangsa

Selasa, 19 Januari 2021

John, Sang Bubalus Man

 Oleh : Ahmad Amirul Sir

           Ketika dunia diserang “kanker paru-paru”, dan hewan seakan lenyap ditelan pilu, dia hidup dengan semangat mudanya. Namanya Johannis Stephanus, biasa dipanggil John, seorang pemuda berkepala dua yang hidup di daerah terpencil di pinggir hutan. Dia adalah seorang pemuda yang kesehariannya memburu anoa untuk dikonsumsi. Hingga suatu hari,  dengan penuh semangat, dia berjalan menuju hutan.  Dia sangat yakin bahwa perangkap yang dia pasang sehari sebelumnya, telah berhasil memerangkap seekor anoa.

            Namun, dia tak menyadari bahwa seekor anoa mengikutinya dari belakang. Hingga saat itu tiba, anoa tersebut menyundul bokong John, hingga dia terpental sejauh 50 meter. Seketika John tak sadarkan diri. Ketika matanya yang terkatup membuka, dia merasa berada di dalam ruangan berwarna putih polos. Seorang pria bertubuh tinggi, berperawakan besar, berwajah samar dan menggunakan jubah hitam, menghampirinya. John percaya, dia adalah seorang “malaikat maut”. Dengan segera, dia berlutut dan memohon padanya.

            “Tolong, jangan cabut nyawa saya ! Tapi, jika kau berkehendak seperti itu, masukkanlah aku ke dalam surga”, ujar John.

            “Apa ? Kau ingin minta dimasukkan ke dalam surga ?“, ujarnya sambil tertawa.

            “Kau terus menerus melakukan pengerusakan lingkungan dan membunuh hewan-hewan dilindungi,  dan kau minta agar dimasukkan ke dalam surga ? Itu mustahil”, sambungnya.

            “Kalau begitu, apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa hidup kembali ?”, tanya John melobi.

            “Kau harus berjanji  bahwa engkau harus melakukan segala sesuatu demi keberlangsungan anoa”, jawabnya.

            “Ya, aku berjanji dengan bersungguh-sungguh”, sambung John. Tak lama, “malaikat maut” tersebut hilang diterpa cahaya. Karena John ketakutan, John berlari kembali menuju rumahnya. Namun, rumahnya yang berjarak 12 kilometer dari tempatnya tak sadar kan diri tersebut, bisa ditempuh oleh John hanya selama 10 detik. Padahal, biasanya John menempuh waktu selama satu jam perjalanan dengan jarak tempuh yang sama. Bahkan, sebelum mencapai rumahnya, dia menabrak pohon. Namun, pohon itu malah tumbang.

            Sesampainya dia di rumahnya, John termenung. Dia baru sadar, bahwa dia memiliki kekuatan super. Dia teringat kembali akan janjinya pada “malaikat maut” itu. Menurutnya, itu adalah “hadiah” yang diberikan oleh “malaikat maut” tersebut untuk melestarikan lingkungan dan menjaga keberlangsungan anoa.

            “Aku akan membuktikan bahwa merusak lingkungan dan memburu anoa adalah tindakan yang keliru. Aku akan menepati janjiku”, ujar John.

            Semenjak John membulatkan tekadnya, John selalu “menghabisi” para pemburu anoa dengan menyembunyikan identitas aslinya. Tetangga John, Suparno, yang sempat melihat kejadian tersebut, akhirnya merekam sebuah video aksi John. Video itu di-viral-kan ketika Suparno berada di kota, dengan caption “Bubalus Man”. Padahal, Suparno tidak mengetahui bahwa “aktor” dari video yang viral tersebut adalah tetangganya sendiri.

            Di Youtube sendiri, video John, sang Bubalus Man, ditonton sebanyak 4.104.000 kali dalam waktu 3 hari. Melihat hal itu, pemburu anoa kelas kakap bernama Josephine Vacquelyn yang biasa dipanggil Josh, geram melihat video viral “Bubalus-Man” tersebut. Pria keturunan Indo-Belanda ini, langsung memberikan perintah kepada asistennya, Viktor dalam bahasa belanda untuk mempersiapkan senjata untuk memburu anoa dan menghabisi Bubalus Man.

            “Viktor, bereidt troepen, wapens, en munitie voor, we gaan op anoa en jagen Bubalus Man”, ujarnya.  

            Ketika malam menjelang, Josh, Viktor, dan anak buahnya tiba di kampung yang terletak di sebelah timur kampung John. Josh membawa 35 orang anak buahnya, 16 pucuk senjata AK-47 berkaliber 50 milimeter beserta 400 biji peluru.

            Mendengar kabar bahwa Josh berada di kampung sebelah, John waspada. Ketika fajar menyingsing keesokan harinya, ia pergi ke hutan untuk “berpatroli”. Di hari pertama Josh berburu anoa, sangat banyak anoa yang berkeliaran di hutan, namun tak satu pun tertangkap. Di hari kedua, anoa-anoa yang hari sebelumnya terlihat, hilang entah kemana.

            Namun, di hari ketiga, Josh, Viktor dan anak buahnya berhasil menangkap cukup banyak anoa. Anoa terakhir yang akan mereka tangkap adalah anoa jantan dengan tanduk sepanjang 1 meter dan perawakan tubuh yang kekar. Anoa itu sedang diintai oleh salah satu anak buah Josh. Viktor, asisten Josh mengambil alih pengintaian. Dia bersiap menembakkan peluru berkaliber 50 milimeternya ke tubuh anoa itu.

            John yang bersembunyi di balik pohon yang letaknya berseberangan dengan Viktor, segera bersiap melindungi anoa itu. Ketika pelatuk senjata itu ditarik, peluru melesat. John dengan penuh tanggung jawab melompat ke arah anoa itu.

            Aarrgghh!!

            John, sang Bubalus Man, tewas tertembak di tangan Viktor. Setelah kematian sang “Bubalus Man” itu, Josh dan anak buahnya bergembira. Mereka pulang dengan perasaan bangga dan penuh kemenangan serta hewan buruan yang cukup banyak.  Jasad John yang terbujur kaku secara perlahan dikerumuni banyak anoa yang selamat dari perburuan Josh. 

            Tak lama, sepasang anoa jantan menggali lubang menggunakan tanduknya untuk mengubur mayat John. Sedangkan yang lain, menyeret tubuhnya hingga masuk ke dalam lubang tersebut dan menguburnya dengan tanah. Sebelum kematian John, kehidupan anoa di hutan tersebut tentram, aman dan damai karena kehadiran John sebagai penjamin keberlangsungan hidup anoa. Namun, setelah kematian John, entah siapa lagi yang menjamin keberlangsungan kehidupananoa-anoa tersebut. Sesungguhnya, makhluk hidup yang paling baik adalah yang bermanfaat bagi sesama makhluk hidup. 

 

***


           Naskah cerpen diatas telah dimuat di Koran Harian Rakyat Sultra edisi tanggal 3 Februari 2020               atas nama penulis. Naskah cerpen dilindungi hak cipta 

 

 

Continue reading John, Sang Bubalus Man