Jumat, 03 Juli 2020

Pendidikan Seks Usia Dini & Pendidikan Parenting Dalam Film Langit Biru (2011)

Oleh : Ahmad Amirul Sir
            
        Langit biru adalah film bergenre drama musikal yang digarap oleh Lasja Fauzia Susatyo, sutradar kawakan Indonesia yang telah menyutradarai beberapa film lainnya, seperti Lovely Luna (2004), Bukan Bintang Biasa (2007), dan Cinta dari Wamena (2013).. Film ini merupakan hasil karya dari rumah produksi Blue Caterpillars Films dan Kalyana Shira Films. Film berdurasi 1 jam 33 menit ini berhasil memikat minat dan menuai pujian masyarakat saat dirilis pada 17 November 2011.

            Film ini bercerita tentang kehidupan anak usia pra remaja yang labil dan mudah terpengaruh. Ada Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita), Amanda (Beby Natalie), dan Tomtim (Jeje Soekarno) sebagai tokoh protagonis. Lalu, ada pula Bruno (Cody McClendon), Jason (Patton Otlivio Latupeirissa), Samuel (Jonathan Prasetyo), dan Erlangga (Samuel Nathanael Carol). Namun, dibalik watak mereka dalam film, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka, yakni perubahan pada usia pra remaja.

            Dalam film ini, para orang tua telah sangat baik dalam memunculkan Pendidikan Seks Usia Dini (PSUD) dalam lingkungan keluarga. Hal ini dapat terlihat dari adegan ayah Biru (Ari Wibowo) dalam menyikapi pubertas anaknya yang ditandai dengan menstruasi. Dalam adegan tersebut, ayah Biru (Ari Wibowo) telah melakukan tindakan yang tepat dengan mencoba mendekati anaknya sebagai sahabat dan pendengar cerita yang baik.  Selain itu, tindakan tegas berupa hukuman oleh ayah Biru (Ari Wibowo) pada anaknya yang kelewatan  -pulang malam setelah keluyuran seharian entah kemana- juga merupakan tindakan tepat. Sehingga membuat Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita) bisa lebih disiplin dan bertanggung jawab.

            Namun, ada pula tindakan-tindakan mendidik anak yang ditunjukkan oleh para orang tua dalam film Langit Biru (2011) ini yang tidak patut dicontoh oleh kebanyakan orang tua di Indonesia. Contohnya adegan mama Amanda (Ary Kirana) dan mama Jason (Ayushita) yang bertengkar karena sama-sama membela anak mereka yang keduanya memang sama-sama salah. Hal ini bisa menyebabkan anak akan merasa memiliki orang tua sebagai pembela walau mereka melakukan kesalahan. Tetapi, pada akhirnya mereka kembali berbaikan dalam acara natal keluarga Amanda (Beby Natalie).

            Film ini ditutup dengan perdamaian antara Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita) dan Bruno (Cody McClendon). Adegan tersebut dapat menimbulkan dua penafsiran yang berbeda. Dimana di satu sisi, adegan tersebut bisa diartikan dengan persahabatan keduanya. Hal ini bisa dilihat dari adegan sebelumnya, yakni Tomtim (Jeje Soekarno) yang bisa memaafkan perlakuan perundungan yang dilakukan Bruno (Cody McClendon) sebelumnya.

Namun, di sisi lain, adegan tersebut juga bisa diartikan sebagai percintaan remaja. Hal itu bisa dilihat dari pandangan dan senyuman Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita), tingkah Bruno (Cody McClendon) yang agak aneh, dan seruan “cieee” yang dilontarkan tokoh lain kepada dua tokoh utama ini. Apabila penonton yang berusia pra remaja menafsirkan seperti itu, maka orang tua harus melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh ayah Biru (Ari Wibowo).

2 komentar: