Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2023

Review Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023)



Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023) adalah sekuel kedua dari film yang sebelumnya tayang pada 2020 berjudul "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini". Kedua film ini diangkat dari buku karya Marchella FP. Kedua film ini diproduksi oleh rumah produksi yang sama, yaitu Visinema Production. 


Selain itu, kedua film ini digarap oleh sutradara yang sama pula, sutradara kenamaan Indonesia yang juga menggarap film berjudul "Mencuri Raden Saleh" (2022) yang sempat booming beberapa waktu lalu. Sutradara tersebut adalah Angga Dwimas Sasongko. Bukan hanya itu, kedua film ini juga dibuka oleh lagu dari penyanyi yang sama, Kunto Aji. Jika film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020) dibuka dengan lagu berjudul Rehat, maka di film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023) dibuka dengan lagu berjudul Saudade. 


Di film sebelumnya bercerita tentang kehidupan keluarga Awan (Rachel Amanda) dengan penceritaan yang sangat relate dengan kehidupan penonton. Dalam film tersebut, tokoh Aurora (Sheila Dara) sendiri kurang mendapat sorotan jika dibandingkan dengan adiknya, Awan dan kakaknya, Angkasa (Rio Dewanto). Sedangkan film ini berkisah tentang kehidupan Aurora yang merantau ke London, Inggris, guna mengejar cita-citanya. Ia kemudian harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dan jauh dari orang tua dan keluarganya. Awan dan Angkasa adalah dua tokoh yang paling disorot dalam film pertama, sehingga eksistensi mereka berlanjut hingga ke sekuel dari film tersebut. Namun, ada kehadiran tokoh baru dalam film ini, mereka adalah Honey (Lutesha), Kit (Jerome Kurnia), dan Jem (Ganindra Bimo). Ketiga orang ini adalah orang-orang terdekat Aurora selama menempuh pendidikan di London.


Film yang rilis pada 2 Februari 2023 ini dimulai dengan pertengkaran hebat antara Aurora dengan kekasihnya bernama Jem. Karena tabiat buruk Jem yang sulit mengendalikan emosi dan cenderung menyalahkan keadaan dan orang lain atas kegagalannya, ia sampai melempar ponsel Aurora hingga rusak, sehingga ia tidak bisa menyelesaikan studinya. Hal tersebut menghalangi Aurora mengurungkan niatnya untuk mengabari keluarganya di Jakarta hingga dua bulan. Hal itu membuat Aurora harus tinggal bersama temannya, Honey yang sudah lama tinggal di sana. Honey memiliki karakter pekerja keras dan sudah dianggap sebagai kakak sendiri oleh Aurora semenjak ia menetap di London. Selain Aurora dan Honey, adapula teman lainnya, yaitu Kit yang merupakan laki-laki keturunan Jerman-Thailand. Sama seperti Honey, Kit merupakan sosok pekerja keras untuk meraih mimpi di London.


Sayangnya, menetap di London membuat Aurora harus jauh dari keluarga. Bahkan, ia sempat hilang kontak dengan keluarganya di Indonesia. Hal ini membuat Angkasa dan Awan memutuskan untuk mencari Aurora ke London. Angkasa dan Awan berfirasat bahwa Aurora sedang dalam kesulitan untuk bertahan hidup di London. Mereka akhirnya berusaha membujuk Aurora untuk kembali ke Indonesia. Namun, Aurora tidak mudah dibujuk.


Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara mengungkapkan, bahwa penonton memang sengaja dibawa untuk mengalami ketidaksepahaman dan menyalahkan Aurora yang tidak memberikan kabar kepada keluarga dan bersimpati kepada Awan dan Angkasa. Namun itu tidak berlangsung lama, sebab penonton akan diajak menangis bersama Aurora dalam beberapa waktu setelahnya. Inisiatif Angga Dwimas Sasongko ini berhasil membawa penonton merasakan apa yang dirasakan Aurora dan menjelajahi perspektif yang dimilikinya.


Selain itu, penataan dan pemilihan musik menjadi penunjang yang sangat baik dalam penceritaan film ini. Hal ini berhasil membuat penonton terbawa emosi dengan adegan dalam film. Sangat wajar jika penataan dan pemilihan musik dalam film ini sangat 'pecah'. Sebab ditangani langsung oleh Abel Huray, seorang penata yang juga menata musik dalam film garapan Angga Dwimas Sasongko lainnya yang berjudul "Mencuri Raden Saleh” (2022). Dari film tersebut, Abel meraih penghargaan Penata Musik Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia tahun 2022.


Film berdurasi 106 menit ini menjadi ajang eksperimen bagi M. Irfan Ramli sebagai penulis skenario dan juga Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara. Kedua insan perfilman Indonesia ini bereksperimen dalam film ini dengan menyuguhkan cerita yang dibagi menjadi beberapa bagian dan alur yang membobol lini waktu. Dengan kata lain, film ini berjalan dengan plot maju-mundur (acak). 


Angga Dwimas Sasongko mengungkapkan bahwa hal ini yang membedakan antara film ini dengan film sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa jika film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” (2020) berjalan secara acak, namun masih dapat dengan mudah diidentifikasi. Sedangkan film ini berjalan secara acak tanpa ada identifikasi. Hal ini dilakukan karena penonton ingin diajak terlibat dengan tokoh dalam film sepanjang film tersebut berjalan dan tidak perlu memahami lini waktu film. Metode penceritaan inilah yang dicoba oleh Angga Dwimas Sasongko dan M. Irfan Ramli dalam film ini.


Uniknya, film yang mengambil setting di Kota London ini justru tidak kehilangan jati dirinya sebagai film Indonesia, sebab tetap terasa relate dengan kondisi penonton di Indonesia. Kekuatan karakter yang dibangun dengan sangat apik yang berpadu dengan pemeran yang mendalami karakter itu menghasilkan karakter Aurora yang menjadi fokus di sepanjang film. Perantauan Aurora ke London adalah hal yang membuka jati diri sebenarnya dari Aurora. Selain itu, perantauan Aurora juga menjadi jawaban atas makna rumah dan keluarga yang ia cari selama ini.


Film ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang memiliki keluarganya masing-masing. Keluarga dimaknai sebagai orang-orang yang selalu ada untuk kita, mendukung setiap keputusan yang kita ambil dan menerima kita apa adanya tanpa menuntut sesuatu apapun. Sehingga, belum tentu “keluarga biologis” yang kita miliki bisa kita sebut sebagai keluarga. Selain itu, film ini juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap orang memiliki tempat kembali yang disebut rumah. Sebab rumah adalah  tempat kita merasa nyaman untuk kembali dan berkumpul dengan orang-orang yang kita sebut sebagai keluarga.  Oleh karena itu, rumah “masa kecil” belum tentu kita bisa sebut sebagai rumah. 


Continue reading Review Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023)

Selasa, 27 Desember 2022

Review Film The Big Four (2022)

Oleh : Ahmad Amirul Sir

Film The Big Four (2022) merupakan salah satu film yang dibuat atas kerjasama Netflix dengan Frontier Pictures. Film ini merupakan film bergenre action yang digarap oleh Timo Tjahjanto dan dibintangi oleh berbagai aktor serta aktris ternama Indonesia, seperti Abimana Aryasatya, Putri Marino, Lutesha, Arie Kriting, dan Kristo Immanuel. Film ini resmi rilis secara global di Netflix pada 15 Desember 2022 dan berhasil menduduki posisi puncak dalam deretan film yang tayang di Netflix dengan penonton terbanyak di 79 negara. 

Film The Big Four (2022) menceritakan tentang seorang detektif yang dikenal lurus menyelidiki kematian ayahnya dan mengikuti jejak hingga ke sebuah pulau tropis. Di sana, ia menemukan jati diri sesungguhnya sang ayah sebagai pemimpin kelompok pembunuh bayaran. Kini, ia dikejar musuh ayahnya, sehingga ia terpaksa bekerja sama dengan murid ayahnya terdahulu. Empat mantan pembunuh bayaran yang siap kembali membasmi musuh.

Film ini mengelaborasi unsur Gore dengan unsur komedi melalui berbagai adegan aksi yang dilakukan pemeran-pemerannya. Dari perspektif sinematografi, film ini terlihat seperti film Indonesia pada umumnya. Hal ini bisa dilihat dari teknik pengambilan gambar yang cukup eksploratif jika dibandingkan dengan film Indonesia pada umumnya, tetapi dalam hal kecepatan kamera dalam mengambil gambar, film ini cukup baik. Sebab dapat mengikuti adegan action yang disajikan pemeran.

Hal yang sejalan juga dapat dilihat pada penyajian alur cerita dan pendalaman karakter yang kurang eksploratif. Hal tersebut tampak melalui cerita yang disajikan dalam 30 menit pertama dari durasi film. Dengan cerita yang disajikan dalam durasi tersebut, penonton dapat dengan mudah menebak plot cerita keseluruhan film. Kejutan kemudian muncul kembali di 10 menit terakhir dari film, meskipun nyatanya kejutan yang dihadirkan masih belum bisa menimbulkan penonton penasaran atas kelanjutan ceritanya. Unsur komedi yang dihadirkan dalam berbagai dialog tokoh juga cukup bisa ditertawakan oleh banyak penonton, walaupun memang pada beberapa penonton nasib terkesan garing. 

Film ini juga masih belum memerhatikan beberapa hal-hal detail yang cukup krusial sebab berpengaruh pada kenaturalan akting dari pemeran. Hal-hal detail yang dimaksud seperti recoil dan berat senjata yang tampak cenderung kurang natural, seolah menyampaikan bahwa para pemeran benar-benar profesional dalam menggunakan senjata api. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah kebalikannya. Selain itu, dalam beberapa scene ledakan, masih kurang rasional. Hal ini dapat dilihat dari ledakan besar yang seharusnya juga berefek ke pemain, justru tidak menimbulkan efek sama sekali, sehingga menimbulkan ambiguitas dari efek yang disajikan.

Namun dari berbagai kekurangan tersebut, film ini memang patut diapresiasi dalam beberapa aspek, salah satunya seperti pewarnaan yang cukup apik jika dibandingkan dengan film-film Indonesia lainnya. Selain itu, adegan perkelahian dan penembakan yang ditampilkan cukup memuaskan, sehingga kualitasnya bisa disandingkan dan bersaing dengan film-film keluaran Hollywood. Oleh karena itu, film ini cukup baik untuk ditonton bersama. 

Film ini memberi banyak pesan. Pertama film ini mengajarkan untuk terus membela kebaikan dan kebenaran tanpa kompromi dan tanpa pandang bulu. Selain itu, film ini juga memberikan pesan betapa pentingnya peran keluarga. Meskipun tokoh dalam film tidak memiliki hubungan darah, tetapi dapat saling menjaga dan melindungi layaknya keluarga.
Continue reading Review Film The Big Four (2022)

Jumat, 02 September 2022

Review Film Mencuri Raden Saleh (2022)

Oleh : Ahmad Amirul Sir

Mencuri Raden Saleh (2022) adalah film Indonesia bergenre heist yang baru saja rilis pada 25 Agustus 2022 kemarin. Kamu bisa baca sinopsis mengenai film Mencuri Raden Saleh (2022) disini.


Sejak trailer-nya rilis pada 29 Juni 2022, sebagian besar penonton film di bioskop Indonesia telah menaruh ekspektasi besar pada film ini. Mengapa tidak, film berlatar konflik konflik perampokan ini dibintangi oleh aktor-aktor muda kawakan, seperti Iqbal Ramadhan, Angga Yunanda, Ari Irham, hingga Umay Shahab. Bukan hanya itu, penulisan naskah film ini dilakukan oleh Angga Dwimas Sasongko dan langsung disutradai oleh sutradara kawakan tanah air tersebut. Sejak rilis pada 29 Agustus 2022 hingga artikel ini naik muat, film ini sudah ditonton oleh hampir 800.000 penonton di seluruh bioskop Indonesia.

Film ini menawarkan sinematografi yang sangat apik dengan angle pengambilan gambar yang sangat ciamik. Seperi angle Piko (Iqbal Ramadhan) yang menuangkan cat dan melukis di kanvas, angle pengurasian lukisan, hingga angle penduplikasian truk ekspedisi yang dilakukan oleh Piko.

Selain itu, penataan suara juga didesain dengan sangat rapi, seperti yang ditunjukkan pada scene kejar-kejaran antara komplotan Raden Saleh dengan para polisi hingga scene baku pukul yang terjadi beberapa kali sepanjang film.

Kemudian penataan rias para pemeran dalam film ini yang sangat cocok dengan karakter yang mereka perankan. Contohnya Ari Irham dan Angga Umay Shahab yang memerankan Tuktuk dan Gofar. Kedua tokoh itu merupakan saudara sambung yang saban hari bekerja di bengkel orang tuanya. Dalam memerankan tokoh itu, mereka dirias menjadi pria kucel dan dekil. Selain itu, ada Rachel Amanda yang memerankan Fella, yaitu tokoh yang cerdas sehingga menjadi negosiator dan perencana yang baik. Dalam film tersebut, Rachel Amanda dirias menjadi sosok wanita yang elegan dan penuh kharisma.

Soal alur, film ini tidak memberi jeda pada penonton untuk menikmati film ini dengan tenang. Film ini berhasil membawa penontonnya untuk merasakan konflik batin yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Bahkan penonton seolah olah terlibat dalam scene komplotan Raden Saleh untuk menyukseskan aksinya, mulai dari perencanaan sampai banyaknya plot twist yang beredar dalam film. Sedikit bocoran, film ini berakhir dengan credit scene dimana seorang polisi wanita menemukan markas Komplotan Raden Saleh dan mencoba mencari informasi intelijen mengenai komplotan ini. 
Continue reading Review Film Mencuri Raden Saleh (2022)

Jumat, 15 Juli 2022

Review Film Ranah 3 Warna (2022)

Oleh : Ahmad Amirul Sir

Film Ranah 3 Warna (2022) merupakan film yang diadopsi dari novel Ahmad Fuadi yang terbit pada Januari 2011 dengan judul yang sama. Film ini awalnya dijadwalkan akan rilis pada 2020, namun sayangnya diundur karena alasan pandemi COVID-19. Film ini tayang perdana secara terbatas pada 18 November 2021 dalam Jakarta Film Week sebagai film pembuka dan tayang di bioskop pada 30 Juni 2022.

Film ini diproduksi oleh MNC Pictures dan digarap oleh sutradara kenamaan Guntur Soeharjanto dan produser Widya Wardhani Ichram. Film ini diperankan oleh banyak artis muda kenamaan, seperti Arbani Yasiz, Teuku Rassya, Amanda Rawles, hingga Raim Laode. Sinopsis film ini dapat kamu akses disini.

Film Ranah 3 Warna ini perlu mendapat apresiasi dalam beberapa aspek, seperti lokasi syuting yang sangat mempesona. Mulai dari kampung halaman Alif di Maninjau, Yordania, hingga Quebec (Kanada). Terlebih dengan sudut pengambilan kamera yang pas dengan panorama alam lokasi syuting. Plot drama yang dibangun juga tidak terlalu monoton, namun juga tidak didramatisir. Sehingga, mampu membuat penonton terhanyut bersama jatuh-bangkit Alif dalam film.

Film ini membungkus dua buah 'mantra' istimewa yang didapatkan oleh Alif dari Ustadz-nya di pesantren, yaitu Man Jadda Wajada (من جد وجد) dan Man Shabara Zhafira (من صبر ظفير). Namun, kedua 'mantra' ini dimunculkan teramat sering dalam film, sehingga kurang halus dan menimbulkan kesan terlalu menggurui. Film ini juga dibangun dengan latar Minangkabau yang sangat kuat. Mulai dari pentas budaya oleh Raisa yang menampilkan Tari Piring dari Minangkabau, hingga bahasa yang digunakan Alif dan Randai.

Dengan latar tersebut, sehingga logat dan bahasa Minang sangat kental dalam film ini. Oleh karena itu, pemeran dituntut untuk menguasai bahasa tersebut. Bukan hanya bahasa Minang, tetapi juga bahasa Arab, Inggris, hingga Prancis. Hal ini yang jarang didapati penonton, bahkan dalam film Ngeri Ngeri Sedap (2022) yang bisa dibilang kental budaya Batak. Dalam hal pendalaman karakter, artis artis yang terlibat sebagai pemeran dalam film ini dapat dianggap berhasil mendalami karakter masing-masing, sehingga karakter yang dibawakan terlihat natural dan mulus, terlebih dengan penguasaan bahasa dan logat Minang yang cukup baik.

O ya, film yang sarat akan motivasi hidup ini juga dibumbui dengan kisah romansa yang dikemas dengan cukup baik, sehingga tidak merusak pesan yang ingin disampaikan. Sehingga membuat penonton muda gregetan. Istilah 'Ranah 3 Warna' yang menjadi judul film ini merujuk pada tanah yang dijejaki Alif dengan sepatu pemberian ayahnya, yaitu Bandung, Yordania, dan Quebec (Kanada). Sayangnya, scene ketika sepatu Alif menjejaki Quebec, tidak dimunculkan. Sehingga, pendalaman scene ini kurang dalam. 

Film ini mengajarkan banyak nilai kebaikan dan inspiratif. Bahwa hidup tidak selamanya berjalan mulus, sehingga harus dilalui dengan sabar dengan segala jatuh-bangkit yang ada. Selain itu, film ini juga mengajarkan untuk beradaptasi dengan lingkungan perantauan. Bahwa anak perantauan terkadang memendam perasaannya, terlebih ketika dalam hidup di perantauan hendak menyerah, kembali ke kampung halaman, hidup sederhana dan melupakan mimpi. Tetapi dengan merantau, perasaan rindu menjadi sangat bermakna.
Continue reading Review Film Ranah 3 Warna (2022)

Review Film Penyalin Cahaya (2021)


Oleh : Ahmad Amirul Sir

Penyalin Cahaya (2021) merupakan sebuah film bergenre drama thriller yang rilis pada 8 Oktober 2021 dan dapat ditonton melalui Netflix sejak 13 Januari 2022. Film berdurasi 130 menit ini diproduksi oleh Rekata Studios bersama Kaninga Pictures. Film yang digarap oleh sutradara Wregas Bhanuteja bersama produser Ajish Dibyo dan Adi Ekatama ini menyabet 12 Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2021 dan menembus ajang Internasional dengan tayang di Busan International Film Festival. Sinopsis film ini dapat diakses pada tautan ini.

Menjelang penayangannya di platform Netflix, film ini diterpa isu pelecehan seksual di masa lalu yang dilakukan oleh salah satu kru nya. Tim produksi langsung saja bertindak dengan menghapus nama kru yang dimaksud dari kredit film. Hal itu disampaikan dalam pernyataan resminya.

Ya, pelecehan seksual merupakan salah satu isu yang diangkat dalam film ini. Film ini berhasil membawa penonton ikut dalam aksi-aksi yang dilakukan Suryani, yang biasa dipanggil Sur, (Shenina Cinnamon) yang kehilangan beasiswanya setelah mabuk saat mengikuti pesta.

Alur yang dibangun dalam film ini sangat tidak terduga dan berhasil membuat penonton bertanya-tanya, siapakah dalang sebenarnya dibalik kejadian yang menimpa Sur. Dengan kata lain, film ini bertaburan plot twist yang tidak mudah ditebak. Belum lagi dengan ending yang tidak ditebak penonton.

Selain itu, penataan suara dan sudut pengambilan gambar dari film ini sangat menarik. Hal itu dapat terlihat dari scene-scene dalam film, ketika Sur mengumpulkan bukti-bukti ketidak bersalahannya.

Film ini menunjukkan bahwa seseorang yang terlihat biasa saja, memiliki 'sisi gelap' yang tidak kita sangka. Selain itu, film ini mengajarkan agar seseorang harus terus waspada pada siapa pun, kapan pun, dan dimana pun, terlebih dengan kehidupan metropolitan yang buas tanpa ampun. 

Bukan hanya itu, film ini menunjukkan bahwa tindakan pelecehan seksual bisa dilakukan oleh siapa pun, bisa terjadi kapan pun, dimana pun dan pada siapa pun. Film ini sangat cocok buat kamu yang sedang/hendak merantau ataukah kamu yang lagi lagi gabut, hehehe 
Continue reading Review Film Penyalin Cahaya (2021)

Jumat, 24 Juni 2022

Review Film Keluarga Cemara 2 (2022)

Oleh : Ahmad Amirul Sir

Film 'Keluarga Cemara  2' merupakan sekuel kedua dari film berjudul sama yang tayang pada 2018 lalu. Uniknya, kedua film ini memiliki panjang durasi yang hampir sama, yakni 110 menit (Keluarga Cemara, 2018) dan 114 menit (Keluarga Cemara 2, 2022). Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam alur cerita film sebelumnya, muncul kembali dalam film Keluarga Cemara 2 dengan tambahan beberapa tokoh, yaitu Agil (si bungsu yang lahir di akhir film Keluarga Cemara) yang diperankan oleh Niloufer Bahalwan dan Ariel (sahabat Cemara) yang diperankan oleh Muzakki Ramdhan.

Film dimulai dengan Abah (Ringgo Agus Rahman) yang memiliki pekerjaan baru di sebuah peternakan ayam dan Euis (Adhisty Zara) yang mulai sibuk dengan urusan sekolahnya. Sementara itu, kehadiran Agil (Niloufer Bahalwan) membuat Cemara (Widuri Putri Sasono) merasa kekurangan perhatian dari orangtua nya. Terlebih Euis (Adhisty Zara) yang beranjak dewasa, sehingga sibuk dengan urusan pertemanannya di sekolah. Adapula Emak (Nirina Zubir) yang harus susah payah membanting tulang untuk membuat tabungan bagi keluarga kecilnya. Perasaan Cemara yang merasa sendirian dan ditinggalkan ditengah usianya yang masih kanak-kanak, sehingga memiliki daya imajinasi yang cukup besar, menghadirkan konflik sederhana yang cukup unik dengan resolusi yang tidak kalah menarik pula.

Dalam film, penonton kerap disuguhkan dengan sudut pandang yang tidak biasa, seperti dari sebuah tembok atau bahkan dari seekor ayam. Selain itu, sepanjang film penonton disuguhkan dengan keluguan anak-anak, masalah antar saudara, hingga kisah romansa anak SMA yang kerap mengundang gelak tawa. Soal musik juga tidak kalah keren. Karena musik yang dihadirkan sepanjang film dapat membawa penonton bernostalgia dengan masa kecilnya

Film ini mengajarkan kita bahwa dunia anak-anak adalah dunia yamng penuh dengan imajinasi. Banyak orang dewasa yang berpikir bahwa dunia anak -anak adalah dunia yang tidak logis, namun sebenarnya tidak seburuk yang kita pikirkan.

Sebagai gambaran, kamu bisa menontom terlebih dahulu Offiia Trailer 'Keluarga Cemara 2' di sini
Continue reading Review Film Keluarga Cemara 2 (2022)

Jumat, 03 Juli 2020

Film Sokola Rimba (2013) : Pendidikan untuk Hutan Indonesia

Oleh : Ahmad Amirul Sir


            Saur Marlina Manurung adalah peempuan berdarah Batak yang merupakan perintis dan pelaku pendidikan alternatif bagi masyarakat terasing dan terpencil di Indonesia. Sebagaimana perempuan Batak lainnya, ia biasa dipanggil Butet. Sosok Butet Manurung menjadi terkenal setelah mendirikan Sokola Rimba pada tahun 2000. Kontribusinya tak lagi dipandang sebelah mata, setelah mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award pada tahun 2014 atas dedikasinya untuk anak-anak dari Suku anak Dalam di pedalaman Jambi. Butet menuliskan pengalamannya ke dalam buku yang terbit pada tahun 2007 yang berjudul “Sokola Rimba : Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba” dan diadaptasi ke film dengan judul yang sama pada tahun 2013 dengan penggarap Riri Riza sebagai sutradara dan Brisia Nasution sebagai Butet Manurung. Film ini diproduksi oleh Miles Films.

            Tentu menjadi hal yang tidak mudah bagi Butet Manurung untuk memulai semuanya. Kedatangannya pada salah satu pemukiman suku Anak Dalam yang masih menggunakan koteka adalah hal baru bagi suku itu sendiri. Aksara latin dan angka arab adalah hal yang asing bagi mereka. Kehadiran Butet Manurung di tengah-tengah kehidupan suku Anak Dalam adalah sebuah harapan bagi hutan Indonesia.

            Kecintaannya pada hutan menjadi prioritas utama dalam hidupnya. Sehingga, maraknya pembalakan liar menjadi alasan bagi Butet Manurung untuk memulai program edukasi bagi suku Anak Dalam. Butet Manurung memulai program edukasinya bagi anak-anak dari suku Anak Dalam dengan mengajar berhitung dan membaca. Hal itu dia lakukan dengan harapan bahwa ketika mereka bertemu dengan pembalak liar yang akan mengambil alih lahan mereka, mereka bisa membuka kitab hukum. Selain itu, Butet juga berharap agar ketika mereka pergi berjualan rotan di pasar, mereka tidak mudah ditipu oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab.

            Ketidak setujuan para orang tua dari suku Anak Dalam terhadap program ini merupakan hambatan tersendiri. Sehingga, anak-anak perlu memberikan penjelasan terkait edukasi ini. Selain itu, sikap Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wanaraya, tempat Butet bekerja yang selalu menunda-nunda program itu merupakan hambatan yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari permintaan bang Bahar (Rukman Rosadi) untuk menunda program edukasi bagi suku Anak Dalam dengan dalih kekurangan anggaran.

            Melihat kondisi saat ini yang masih dibatasi oleh pandemi, membuat suku-suku yang tinggal di pedalaman Indonesia semakin terisolasi dan tidak berpendidikan. Sehingga, keterjagaan hutan dari pembalakan liar makin menurun. Maka kehadiran sosok pendidik bagi orang-orang yang tinggal di pedalaman menjadi anugrah bagi mereka dan menjadipenyelamat hutan Indonesia.

        Indonesia masih sangat membutuhkan sosok-sosok layaknya Butet Manurung yang rela mendidik suku-suku pedalaman dengan harapan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit penjaga kelestarian hutan Indonesia. Hal ini juga menjadi solusi yang tepat untuk mengurangi jumlah titik panas di hutan-hutan Indonesia yang semakin meningkat akhir-akhir ini. Dengan hadirnya sosok pendidik di tengah-tengah kehidupan di tengah-tengah suku-suku pedalaman, tak hanya memberikan manfaat edukatif bagi suku-suku tersebut, tapi juga bagi keestarian hutan yang sangat kita cintai.
Continue reading Film Sokola Rimba (2013) : Pendidikan untuk Hutan Indonesia

Pendidikan Seks Usia Dini & Pendidikan Parenting Dalam Film Langit Biru (2011)

Oleh : Ahmad Amirul Sir
            
        Langit biru adalah film bergenre drama musikal yang digarap oleh Lasja Fauzia Susatyo, sutradar kawakan Indonesia yang telah menyutradarai beberapa film lainnya, seperti Lovely Luna (2004), Bukan Bintang Biasa (2007), dan Cinta dari Wamena (2013).. Film ini merupakan hasil karya dari rumah produksi Blue Caterpillars Films dan Kalyana Shira Films. Film berdurasi 1 jam 33 menit ini berhasil memikat minat dan menuai pujian masyarakat saat dirilis pada 17 November 2011.

            Film ini bercerita tentang kehidupan anak usia pra remaja yang labil dan mudah terpengaruh. Ada Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita), Amanda (Beby Natalie), dan Tomtim (Jeje Soekarno) sebagai tokoh protagonis. Lalu, ada pula Bruno (Cody McClendon), Jason (Patton Otlivio Latupeirissa), Samuel (Jonathan Prasetyo), dan Erlangga (Samuel Nathanael Carol). Namun, dibalik watak mereka dalam film, ada satu kesamaan yang menyatukan mereka, yakni perubahan pada usia pra remaja.

            Dalam film ini, para orang tua telah sangat baik dalam memunculkan Pendidikan Seks Usia Dini (PSUD) dalam lingkungan keluarga. Hal ini dapat terlihat dari adegan ayah Biru (Ari Wibowo) dalam menyikapi pubertas anaknya yang ditandai dengan menstruasi. Dalam adegan tersebut, ayah Biru (Ari Wibowo) telah melakukan tindakan yang tepat dengan mencoba mendekati anaknya sebagai sahabat dan pendengar cerita yang baik.  Selain itu, tindakan tegas berupa hukuman oleh ayah Biru (Ari Wibowo) pada anaknya yang kelewatan  -pulang malam setelah keluyuran seharian entah kemana- juga merupakan tindakan tepat. Sehingga membuat Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita) bisa lebih disiplin dan bertanggung jawab.

            Namun, ada pula tindakan-tindakan mendidik anak yang ditunjukkan oleh para orang tua dalam film Langit Biru (2011) ini yang tidak patut dicontoh oleh kebanyakan orang tua di Indonesia. Contohnya adegan mama Amanda (Ary Kirana) dan mama Jason (Ayushita) yang bertengkar karena sama-sama membela anak mereka yang keduanya memang sama-sama salah. Hal ini bisa menyebabkan anak akan merasa memiliki orang tua sebagai pembela walau mereka melakukan kesalahan. Tetapi, pada akhirnya mereka kembali berbaikan dalam acara natal keluarga Amanda (Beby Natalie).

            Film ini ditutup dengan perdamaian antara Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita) dan Bruno (Cody McClendon). Adegan tersebut dapat menimbulkan dua penafsiran yang berbeda. Dimana di satu sisi, adegan tersebut bisa diartikan dengan persahabatan keduanya. Hal ini bisa dilihat dari adegan sebelumnya, yakni Tomtim (Jeje Soekarno) yang bisa memaafkan perlakuan perundungan yang dilakukan Bruno (Cody McClendon) sebelumnya.

Namun, di sisi lain, adegan tersebut juga bisa diartikan sebagai percintaan remaja. Hal itu bisa dilihat dari pandangan dan senyuman Biru (Ratnakanya Annisa Pinandita), tingkah Bruno (Cody McClendon) yang agak aneh, dan seruan “cieee” yang dilontarkan tokoh lain kepada dua tokoh utama ini. Apabila penonton yang berusia pra remaja menafsirkan seperti itu, maka orang tua harus melakukan tindakan seperti yang dilakukan oleh ayah Biru (Ari Wibowo).

Continue reading Pendidikan Seks Usia Dini & Pendidikan Parenting Dalam Film Langit Biru (2011)