Tampilkan postingan dengan label Psyinformation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psyinformation. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 April 2023

Piramida Kebutuhan Maslow


Sejak di jenjang sekolah dasar, kita diajarkan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang terbagi menjadi tiga jenis, yaitu primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama manusia yang jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka seorang individu akan kesulitan menjalani hidupnya. Kebutuhan primer sebagaimana yang dimaksud adalah sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal).

Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan prioritas kedua individu yang bertujuan untuk melengkapi kebahagiaan manusia. Kebutuhan sekunder sebagaimana yang dimaksud seperti mesin cuci, gawai, dan peralatan elektronik lainnya. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan prioritas ketiga seorang individu. Kebutuhan tersier sebagaimana yang dimaksud adalah seperti barang-barang mewah, liburan ke luar negeri, dan sebagainya.

Tapi, tahukah kamu jika kebutuhan manusia dapat dibagi tidak hanya seperti diatas? Perkenalkan Abraham Maslow (1908-1970), seorang psikolog yang menciptakan klasifikasi kebutuhan tersendiri. Abraham Maslow adalah seorang psikolog beraliran humanistik, yaitu aliran psikologi yang membahas tentang manusia seutuhnya yang diperoleh berdasarkan studi terhadap orang-orang sehat dan berfungsi sepenuhnya (full fungtioning) (Schultz & Schultz, 2011).

Dalam Schultz & Schultz (2011) disebutkan bahwa Maslow mengklasifikasikan kebutuhan manusia menjadi 5 tingkat dalam bentuk piramida. Piramida yang kemudian dikenal sebagai piramida kebutuhan Maslow ini bersifat hierarki, sehingga kebutuhan di tingkat lebih tinggi tidak akan aktif jika kebutuhan di tingkat rendah belum terpenuhi. Berikut pembahasan mengenai piramida kebutuhan Maslow.


- Di tingkat paling dasar, ada kebutuhan fisiologis. Yang termasuk kebutuhan fisiologis ini seperti kebutuhan akan udara, makan dan minum, pakaian, hingga kebutuhan seksual.

- Di tingkat kedua, ada kebutuhan rasa aman. Yang termasuk kebutuhan rasa aman ini adalah kebutuhan akan perlindungan, keamanan, stabilitas, dan terbebas dari rasa takut dan keterancaman.

- Kemudian ada kebutuhan cinta atau sosial di tingkatan ketiga. Pertemanan, keintiman, kasih sayang dan sejenisnya termasuk dalam tingkatan ini.

- Di tingkat selanjutnya, ada kebutuhan harga diri. Contoh dari kebutuhan harga diri seperti prestasi, kemandirian, prestige, self respect, hingga pengakuan dari orang lain.

- Di tingkatan paling atas ada kebutuhan aktualisasi diri. Contohnya adalah realisasi potensi diri, pertumbuhan personal, hingga pengalaman puncak.

Menurut Maslow, aktualisasi diri merupakan motivasi dasar yang dimiliki seorang individu sejak lahir. Walaupun setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengaktualisasikan dirinya, namun sejatinya seorag individu, becoming, terus berkembang dan senantiasa menemukan makna penting bagi diri dan kehidupannya (McLeod, 2014).

Menurutnya, seorang individu yang telah berada di tahap aktualisasi diri memiliki motivasi untuk mengabdikan diri pada sesuatu diluar dirinya yang ia sebut metamotivation. Seiring perkembangan waktu, pada 1970-an Maslow kemudian berpandangan bahwa puncak kebutuhan seorang individu tidak hanya sebatas pada aktualisasi diri, tetapi transendensi diri (self transendence). Individu yang mencapai tahap ini akan melampaui batasan personal, mengidentifikasikan diri dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan mengalami berbagai pengalaman interpersonal. Gagasan transendensi diri ini kemudian membawa Maslow mendirikan aliran baru dalam psikologi yang berbeda dari psikologi humanistik, yaitu psikologi transpersonal (Rahman, 2018).

 

REFERENSI

McLeod., S.A. (2014). Maslow’s Hierarchy of Needs. Diunduh dari www. simplypsychology.org/maslow.html

Rahman AA. (2018). Sejarah Aliran Psikologi: Dari Klasik Hingga Modern. Depok: Rajawali Press.

Schultz DP & Schultz SE. (2011). A History of Modern Psychology, 10th Edition. Wadsworth, USA. 

Continue reading Piramida Kebutuhan Maslow

Kamis, 16 Maret 2023

Strawerry Generation: Bagaimana Perspektif Psikologi?

 



Psikologi secara etimologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu psyche (yang berarti jiwa) dan logos (yang berarti ilmu). Artinya, secara etimologi psikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang jiwa. Sedangkan secara terminologi, psikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang perilaku dan proses mental. Perilaku sendiri bermakna sebagai sesuatu yang dilakukan oleh orang baik perkataan maupun perbuatan. Sedangkan proses mental dimaknai sebagai pengalaman internal seseorang dalam bentuk aktivitas berpikir, merasa, mempersepsi, dan lain-lain.


Ilmu psikologi membahas berbagai isu dan fenomena yang terjadi di masyarakat, seperti fenomena strawberry generation. Kasali (2018) mendefinisikan strawbery generation sebagai generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Singkatnya, Kasali (2018) mendefinisikan strawberry generation sebagai generasi masa kini yang manja namun kreatif. Generasi ini dianalogikan dengan buah strawberry sebab generasi sangat indah secara kasat mata, namun lembek, rapuh, dan mudah hancur. Kasali (2018) juga menyebutkan bahwa munculnya fenomena ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut.

1.    Self diagnose tanpa melibatkan ahli

Melimpahnya informasi yang beredar di sosial media membat generasi masa kini lebih banyak terpapar dan menyerap informasi layaknya spons yang menyerap air. Dengan kata lain, generasi masa kini menyerap informasi apapun yang diterimanya, walaupun kadang belum tepat, yang kemudian coba dicocok-cocokkan antara informasi yang diterima melalui media sosial dan apa yang terjadi kepada dirinya. Hal ini akan menyebabkan generasi masa kini berpikir berlebih (overthinking).

2.    Gaya pengasuhan orang tua terkait kondisi keluarga

Dibesarkan dalam keluarga yang sejahtera mesti disyukuri tetapi berakibat juga pada beberapa hal. Pertama, orang tua pada keluarga sejahtera cenderung memberikan apa yang diminta oleh anak-anaknya. Kedua, waktu orang tua dengan keluarga akan dikompensasikan dalam bentuk materi (seperti uang). Padahal orang tua harus tetap meluangkan waktunya bersama keluarga dan tidak dapat dikompensasi. Ketiga, orang tua sudah tidak terbiasa memberi punishment atas kesalahan-kesalahan anaknya. Keempat, setting unrealistic expectation yaitu situasi ketika orangtua memberi ekspektasi berlebihan kepada anak terkait kehidupan dengan menyebutnya sebagai “si paling hebat” dan sejenisnya. Padahal dalam kenyataannya, anak-anak ini akan menghadapi situasi lebih besar dan lebih sulit. Anak akan bertemu dengan orang-orang yang lebih hebat dan pandai dari diri mereka. Akibatnya, anak-anak akan lebih mudah kecewa dan lebih mudah tersinggung karena perbedaan kondisi di dalam dan di luar rumah.

3.    Narasi orang tua yang kurang berpengetahuan

Akhir-akhir ini jumlah orangtua yang mengatakan anaknya moody makin meningkat. Akibatnya, setelah anak-anak itu besar nanti mereka akan percaya dengan pelabelan atas dirinya itu.

4.    Mudahnya generasi masa kini untuk lari dari kesulitan

Perlu diketahui oleh generasi muda bahwa kemenangan yang sebenarnya adalah ketika berhasil menangani dan menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Lari dari kesulitan justru akan membuat kesulitan tersebut membesar dan makin sukar diselesaikan.

 

Dalam perspektif psikologi, fenomena strawberry generation berkaitan dengan konsep resiliensi. Hendriani (2022) menyebutkan bahwa menurut Grotberg, resiliensi didefinisikan sebagai kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi serta kapasitas manusia untuk menghadapi dan memecahkan masalah setelah mengalami kesengsaraan. Reivich dan Shatte dalam Hendriani (2022) menjelaskan bahwa resiliensi ditandai oleh sejumlah karakteristik, seperti: Adanya kemampuan menghadapi kesulitan, ketangguhan menghadapi stres ataupun bangkit dari trauma yang dialami.

 

Resiliensi pada remaja dan anak adalah periode yang penting dan menjadi dasar dari masa dewasa, perubahan individu dan perkembangan selama hidup (Budiyati dan Oktaviant, 2020). Menurut Missasi dan Izzati (2019), resiliensi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, yaitu: 1) Spiritualitas; 2) Self Efficacy; 3) Self Esteem; 4) Optimisme; 5) Dukungan sosial. Jaeh & Madihie (2019) menjelaskan bahwa terdapat 5 komponen resiliensi pada remaja yaitu keberartian, kegigihan, kepercayaan pada diri sendiri, kesabaran, keberadaan kesendirian.

 

Kasali (2018) memberikan beberapa alternatif solusi atas fenomena tersebut di atas yaitu sebagai berikut.

1.    Anak muda perlu selalu memperbarui literasi yang dimiliki

Di jaman informasi sangat cepat beredar saat ini, memvalidasi kebenaran dari setiap informasi dengan berbagai cara adalah kewajiban yang harus dilakukan

2.    Hati-hati dalam melakukan self diagnose

Hadapilah sebuah situasi dengan sekuat tenaga karena ujian merupakan hal yang biasa terjadi. Hati-hati terhadap perangkap sosial media, sebab bisa membuat orang menjadi caper dan menceritakan masalah yang dihadapinya, kadang dengan melebih-lebihkan sesuatu.

3.    Orang tua harus memperkuat gaya pengasuhannya

Orang tua harus berperan agar anaknya menjadi generasi yang lebih baik dari dirinya. Jangan terlalu memanjakan anak dengan berlebihan. Berikan konsekuensi jika anak melakukan kesalahan. Mari memberi pemahaman akan banyak hal kepada anak-anak, berdampingan dengan teori pengetahuan. Keberhasilan anak-anak ke depan bukan sekedar dari pengetahuan, tetapi generasi berikutnya perlu menjadi orang yang eksploratif.

4.    Urgensitas peran pendidik

Seorang pendidik harus dapat mengembangkan situasi yang menyenangkan dalam pelajaran. Keberhasilan pada kehidupan tidak sekedar berdasar dari nilai yang bisa dicapai di kelas, mereka yang juara di kelas belum tentu akan menjadi juara dalam kehidupan.

 

Referensi

Kasali R. (2018). Strawberry Generation. Jakarta: Penerbit Mizan

Hendriani W. (2022). Resiliensi Psikologis: Sebuah Pengantar. Jakarta: Prenada Media.

Continue reading Strawerry Generation: Bagaimana Perspektif Psikologi?